Sabtu, 17 Desember 2011
Kisah Nabi Sulaiman dengan Semut
Kisah 1
Kerajaan Nabi Sulaiman AS dikala itu sedang mengalami musim kering yang begitu panjang. Lama sudah hujan tidak turun membasahi bumi. Kekeringan melanda di mana-mana. Baginda Sulaiman AS mulai didatangi oleh ummatnya untuk meminta pertolongan dan memintanya memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan untuk membasahi kebun-kebun dan sungai-sungai mereka. Baginda Sulaiman AS kemudian memerintahkan satu rombongan besar pengikutnya yang terdiri dari bangsa jin dan manusia berkumpul di lapangan untuk berdo'a memohon kepada Allah SWT agar musim kering segera berakhir dan hujan segera turun.
Sesampainya mereka di lapangan Baginda Sulaiman AS melihat seekor semut kecil berada di atas sebuah batu. Semut itu berbaring kepanasan dan kehausan. Baginda Sulaiman AS kemudian mendengar sang semut mulai berdo'a memohon kepada Allah SWT penunai segala hajat seluruh makhluk-Nya. "Ya Allah pemilik segala khazanah, aku berhajat sepenuhnya kepada-Mu, Aku berhajat akan air-Mu, tanpa air-Mu ya Allah aku akan kehausan dan kami semua kekeringan. Ya Allah aku berhajat sepenuhnya pada-Mu akan air-Mu, kabulkanlah permohonanku", do'a sang semut kepada Allah SWT. Mendengar do'a si semut maka Baginda Sulaiman AS kemudian segera memerintahkan rombongannya untuk kembali pulang ke kerajaan sambil berkata pada mereka, "kita segera pulang, sebentar lagi Allah SWT akan menurunkan hujan-Nya kepada kalian. Allah SWT telah mengabulkan permohonan seekor semut". Kemudian Baginda Nabi Sulaiman dan rombongannya pulang kembali ke kerajaan.
Kisah 2
Suatu hari Baginda Sulaiman AS sedang berjalan-jalan. Ia melihat seekor semut sedang berjalan sambil mengangkat sebutir buah kurma. Baginda Sulaiman AS terus mengamatinya, kemudian beliau memanggil si semut dan menanyainya, Hai semut kecil untuk apa kurma yang kau bawa itu?. Si semut menjawab, Ini adalah kurma yang Allah SWT berikan kepada ku sebagai makananku selama satu tahun. Baginda Sulaiman AS kemudian mengambil sebuah botol lalu ia berkata kepada si semut, Wahai semut kemarilah engkau, masuklah ke dalam botol ini aku telah membagi dua kurma ini dan akan aku berikan separuhnya padamu sebagai makananmu selama satu tahun. Tahun depan aku akan datang lagi untuk melihat keadaanmu. Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman AS. Setahun telah berlalu. Baginda Sulaiman AS datang melihat keadaan si semut. Ia melihat kurma yang diberikan kepada si semut itu tidak banyak berkurang. Baginda Sulaiman AS bertanya kepada si semut, hai semut mengapa engkau tidak menghabiskan kurmamu Wahai Nabiullah, aku selama ini hanya menghisap airnya dan aku banyak berpuasa. Selama ini Allah SWT yang memberikan kepadaku sebutir kurma setiap tahunnya, akan tetapi kali ini engkau memberiku separuh buah kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi karena engkau bukan Allah Pemberi Rizki (Ar-Rozak), jawab si semut.
semut menurut hadis
Kisah Semut Dalam Hadits Rasulullah dan Faidahnya
Merusak tidak disukai oleh Allah,
bahkan merusak pohon-pohon dan hewan-hewan juga tidak boleh. Oleh
karena itu, Allah melarang berbuat kerusakan di muka bumi. Di antara
pengrusakan itu adalah pengrusakan terhadap tanaman dan binatang. Pada
hari kiamat seorang hamba akan ditanya tentang burung kecil yang
dibunuhnya tanpa alasan yang benar.
Termasuk
dalam hal ini adalah apa yang disampaikan oleh Rasulullah tentang
teguran Allah kepada salah seorang nabi-Nya. Para nabi memiliki tempat
tersendiri di sisi Allah, tetapi ini tidak menghalangi untuk meluruskan
mereka jika tindak tanduk mereka keliru walaupun itu remeh. Benar, Allah
menegur Nabi atas tindakannya yang membakar sebuah desa semut, hanya
karena seekor semut menggigitnya. Teks Hadis
Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Seorang nabi singgah di bawah pohon, dia digigit oleh seekor semut. Dia memerintahkan agar barang bawaannya dijauhkan dari bawah pohon itu. Lalu dia memerintahkan agar rumah semut itu dibakar. Maka Allah mewahyukan kepadanya, �Mengapa tidak hanya satu ekor semut saja?�”
Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah, “Bahwasanya seekor semut menggigit salah seorang Nabi, maka dia memerintahkan agar desa semut dibakar. Allah pun mewahyukan kepadanya, �Hanya karena kamu digigit oleh seekor semut lalu kamu membinasakan sebuah umat yang ber-tasbih.�”
Takhrij Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya dalam Kitab Bad�il Khalqi, bab jika lalat jatuh di bejana, 6/356, no. 3219.
Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabus Salam, bab larangan membunuh semut, 4/1759, no. 2241.
Penjelasan Hadis
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyampaikan kepada kita bahwa salah seorang nabi Allah singgah di bawah pohon. Sepertinya dia berteduh dari panas matahari untuk beristirahat dari lelahnya perjalanan. Di dekat dia berteduh terdapat sebuah desa semut. Mungkin singgahnya nabi ini bersama teman-temannya di bumi semut mengganggu mereka. Biasanya semut melawan orang yang mengganggunya dan merusak ketenangannya. Seekor semut datang dan menggigit nabi itu.
Seorang nabi adalah manusia. Dia pun marah seperti mereka. Kadang-kadang dia melakukan tindakan spontan yang membuatnya menyesal setelah itu dan dia disalahkan karenanya. Di antaranya adalah tindakan Nabi ini. Dia marah kepada seekor semut beserta teman-temannya. Dia bertekad menghukum seluruh desa semut. Dia memerintahkan pengikutnya agar menjauhkan barangnya dari bawah pohon itu, kemudian dia menyulut api di desa semut. Maka semut-semut yang sedang berjalan-jalan di desanya dan di sekelilingnya terbakar dan panas api itu sampai kepada semut-semut yang berada di lubangnya di dalam tanah.
Keadilan menuntut orang yang tidak bersalah, tidak boleh dihukum karena kesalahan orang lain. Yang menggigit nabi ini hanyalah seekor semut. Jika memang mesti dihukum, maka semestinya yang dihukum hanyalah semut tersebut bukan yang lain. Nabi kita mengajarkan kepada kita bahwa kita berhak melawan orang atau hewan yang menyerang kita, walaupun hewan itu adalah hewan jinak. Semut ini menyerang dan menggigit. Jika orang yang digigitnya menghukumnya, maka dia tidak disalahkan. Adapun menghukum semua semut yang ada di desa itu dan membakar mereka dengan api, ini bukanlah suatu keadilan.
Semut adalah umat ciptaan Allah. Mereka bertasbih dan mensucikan Allah seperti hewan-hewan yang lain. Manusia tidak boleh menyerangnya, kecuali jika mereka menyakitinya. Oleh karena itu, Allah menyalahkan nabi itu dan mencelanya karena dia menghukum melampaui batas. Dia menghukum semut yang tidak bersalah karena kesalahan seekor semut. Dia membunuh umat yang bertasbih kepada Allah. Dan Allah telah berfirman kepadanya untuk menegurnya, “Mengapa tidak hanya satu semut saja? Hanya karena kamu digigit oleh seekor semut, kamu membinaskan umat yang bertasbih kepada Allah.”
Orang yang terdidik untuk merasa bersalah jika membunuh seekor semut, dia tidak mungkin setelah itu membunuh manusia tanpa salah dan tanpa alasan yang benar. Dia akan menjadi contoh mulia yang menjaga nyawa hamba-hamba Allah sebagaimana dia menjaga tanaman dan hewan.
Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis
1. Tidak boleh membunuh semut, sebagaimana tidak boleh membunuh binatang lain, kecuali binatang yang menyerang dan mengganggu. Dalam sebuah hadis terdapat larangan membunuh semut, tawon, hud-hud, dan shurad. (Shurad adalah burung berkepala besar dan berparuh besar, perutnya putih, punggungnya hijau, memangsa serangga dan burung kecil, pent.).
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad shahih di atas syarat Bukhari Muslim (Syarah Shahih Muslim An-Nawawi, 14/399).
Dikecualikan dari larangan membunuh binatang adalah binatang fawasiq yang berjumlah lima, baik dibunuh di daerah halal maupun di daerah haram. Fawasiq yang berjumlah lima ini sebagaimana dalam hadis riwayat Bukhari dalam Shahih-nya adalah tikus, kalajengking, burung gagak, rajawali, dan anjing penggigit.
(Shahih Bukhari, 6/355, no. 3314)
Selain kelima hewan fawasiq ini Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam juga memerintahkan membunuh cicak. Beliau menyatakan bahwa membunuhnya adalah berpahala. (lihat hadis-hadis yang memerintahkan membunuhnya dalam Shahih Muslim, 4/1757, no. 2237-2240).
Begitu juga beliau memerintahkan membunuh ular, kecuali ular rumah yang tidak dibunuh hingga diperingatkan tiga kali; jika setelah itu masih terlihat di rumah, maka bunuhlah. Dan dikecualikan dari ini adalah dua macam ular, yaitu ular berekor pendek dan ular dengan dua garis putih di punggungnya. Keduanyadibunuh secara mutlak walaupun tinggal di rumah, karena keduanya bisa menyebabakna keguguran dan kebuataan.
(lihat hadis-hadis tentang ular dalama Shahih Muslim).
2. Membakar makhluk hidup tidak dibolehkan dalam syariat kita. Nabi menjelaskan alasan larangan ini, yaitu bahwa yang berhak mengadzab dengan api hanyalah pemilik api. Dan ini mungkin dibolehkan di dalam syariat sebelum kita, karenanya Nabi ini membakar desa semut.
3. Semut bertasbih kepada Allah sebagaimana dinyatakan dalam hadis. Allah telah memberitakan bahwa segala sesuatu bertasbih dengan memuji Allah, “Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.”
(Al-Isra: 44).
4. Hadis ini menyampaikan bahwa semut adalah sebuah umat. Allah telah memberitakakan bahwa makhluk-makhluk, burung-burung dan hewan-hewan, semuanya adalah umat seperti kita. “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat-umat juga seperti kamu.”
(Al-An�am 38)
Kajian-kajian modern telah sampai pada hakikat ini melalui pengamatan, penelitian, dan pemikiran.
Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 200-204.
Diposting Ulang Dari : solihin87.cybermq.com
semut kisah nabi sulaiman
|
|
|
Siapa yang tak tahu semut? Binatang ini kecil dan suka
yang manis-manis. Tapi Allah mengangkat derajat mereka
begitu tinggi sampai-sampai Allah menamakan salah satu surat
dalam al-Qur'an dengan nama mereka: an-naml (semut). Ada kisah menarik antara semut dengan Nabi Sulaiman a.s. Alkisah, ketika Sulaiman dan tentaranya (terdiri dari manusia, jin dan burung) berjalan sampai di suatu lembah, sekumpulan semut khawatir terinjak oleh bala tentara Sulaiman. Berkatalah seekor semut kepada kawannya: "Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman, dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari".(QS 27: 18)Nabi Sulaiman yang diberi kemampuan mendengar percakapan semut itu tersenyum dan tertawa karenanya. Tapi berbeda dengan kita yang menjadi sombong ketika orang-orang kecil minggir ketakutan melihat kita, Nabi Sulaiman segera berdo'a: "Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."Tengoklah kisah di atas dengan teliti. Bahkan seorang Nabi seperti Sulaiman pun mampu mensyukuri ni'mat hanya karena sekumpulan semut. Sekarang tengoklah diri kita, berapa banyak sepatu yang kita punya, berapa banyak pakaian yang tersimpan di lemari, berapa kali sehari kita membuka internet, berapa banyak tabungan kita di Bank, betapa empuknya kursi di ruangan kita, dan masih banyak lagi ni'mat dari Allah disekeliling kita. Sudahkah kita mampu menjadikan benda-benda tersebut sebagai alat untuk membuat kita bersyukur pada ilahi? Lalu bagaimana caranya mensyukuri ni'mat tersebut? Gampang saja! Anda memiliki ruang tamu yang luas, undang tetangga anda dan buatlah pengajian di rumah anda seminggu sekali. Anda memiliki mobil, ajaklah rekan sekerja anda yang naik bis kota untuk pulang-pergi ke kantor bersama-sama, anda memiliki gaji yang berlipat ganda, berikan sedikit kelebihan harta anda pada fakir miskin di sekitar lingkungan anda. Anda memiliki waktu luang dan ilmu yang banyak, mengapa tak anda kumpulkan para remaja mesjid di tempat anda untuk anda ajarkan sedikit ilmu pengetahuan. Anda memiliki baju yang banyak, coba teliti mana baju yang benar-benar anda butuhkan,lalu sisanya berikan pada panti asuhan. Dengan cara begini, setiap ni'mat yang kita peroleh mampu kita syukuri. Ada sebuah do'a yang mirip dengan do'a Nabi Sulaiman di atas, mari kita tengadahkan tangan kita dan berdo'a : "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS 46:15)Armidale, 2 September 1997 |
Selasa, 06 Desember 2011
xxx
pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi.....
itu kata peterpan....
setiap manusia pasti akan melakukan suatu kesalahan
tapi apakah kesalahan itu tidak dapat dimaafkan?
pastinya bisa dong...
datangnya pagi ini taksecerah apa yang nampak di langit
dan apa yang nampak di kehidupan ku tak segelap langit di angkasa...
jadi gimana ya... saya jadi bingung sendiri....
itu kata peterpan....
setiap manusia pasti akan melakukan suatu kesalahan
tapi apakah kesalahan itu tidak dapat dimaafkan?
pastinya bisa dong...
datangnya pagi ini taksecerah apa yang nampak di langit
dan apa yang nampak di kehidupan ku tak segelap langit di angkasa...
jadi gimana ya... saya jadi bingung sendiri....
Jumat, 02 Desember 2011
gila banget
SAHABAT
Sahabatku adalah tetesan embun pagi
yang jatuh membasahi kegersangan hati
hingga mampu menyuburkan seluruh taman sanubari
dalam kesejukan
Sahabatku adalah bintang gemintang malam di angkasa raya
yang menemani kesendirian rembulan yang berduka
hingga mampu menerangi gulita semesta
dalam kebersamaan
Sahabatku adalah pohon rindang dengan seribu dahan
yang memayungi dari terik matahari yang tak tertahankan
hingga mampu memberikan keteduhan
dalam kedamaian
Wahai angin pengembara
kabarkanlah kepadaku tentang dirinya
Sahabatku adalah kumpulan mata air dari telaga suci
yang jernih mengalir tiada henti
hingga mampu menghapuskan rasa dahaga diri
dalam kesegaran
Sahabatku adalah derasnya hujan yang turun
yang menyirami setiap jengkal bumi yang berdebu menahun
hingga mampu membersihkan mahkota bunga dan dedaun
dalam kesucian
Sahabatku adalah untaian intan permata
yang berkilau indah sebagai anugerah tiada tara
hingga mampu menebar pesona jiwa
dalam keindahan
Wahai burung duta suara
ceritakanlah kepadaku tentang kehadirannya
Sahabatku adalah tetesan embun pagi
yang jatuh membasahi kegersangan hati
hingga mampu menyuburkan seluruh taman sanubari
dalam kesejukan
Sahabatku adalah bintang gemintang malam di angkasa raya
yang menemani kesendirian rembulan yang berduka
hingga mampu menerangi gulita semesta
dalam kebersamaan
Sahabatku adalah pohon rindang dengan seribu dahan
yang memayungi dari terik matahari yang tak tertahankan
hingga mampu memberikan keteduhan
dalam kedamaian
Wahai angin pengembara
kabarkanlah kepadaku tentang dirinya
Sahabatku adalah kumpulan mata air dari telaga suci
yang jernih mengalir tiada henti
hingga mampu menghapuskan rasa dahaga diri
dalam kesegaran
Sahabatku adalah derasnya hujan yang turun
yang menyirami setiap jengkal bumi yang berdebu menahun
hingga mampu membersihkan mahkota bunga dan dedaun
dalam kesucian
Sahabatku adalah untaian intan permata
yang berkilau indah sebagai anugerah tiada tara
hingga mampu menebar pesona jiwa
dalam keindahan
Wahai burung duta suara
ceritakanlah kepadaku tentang kehadirannya
usil.......
Pohon pohon membisu
Pena kertas pun membisu
Kasih, ku selalu merindumu
rasa kesepian samar membayang seribu
Deru angin semakin
Laraku bak gerimis itu
membasahi memenuhi tiap dahan dan daun daun
Pena kertas pun membisu
Kasih, ku selalu merindumu
rasa kesepian samar membayang seribu
Deru angin semakin
Laraku bak gerimis itu
membasahi memenuhi tiap dahan dan daun daun
pohon usil
Sebuah Puisi Harapan Hati
Selasa, 20 Juni 2006 oleh Yudha P Sunandar
Memandang gadis idaman yang tertaut lelakinya
Yang mengabdi jadi sepasang kekasih
Terheran hatiku bicara
Kapan hamba bisa jadi miliknya
Yang mengasihi tanpa ada pamrih
Terjerembabku mengadu
Bahwa aku hanya bisa tertawa bisu
Dan menangis terbahak-bahak
Di tengah rotasi perputaran hati
Dan dalam kebingungan yang sempurna
Hanya sendu yang kubawa
Untuk malam yang terang
Dan untuk siang yang semakin kelam
Hanya pilu yang kupunya
Untuk jiwa yang telah tiada
Dan untuk hati yang berkaca-kaca
Hanya ini yang kupunya
Sebuah puisi harapan hati
Dari kekekalan sendiri yang abadi
170206
Yudha P Sunandar
Sn
HARAPAN PUISI
harapan
http://www.ziddu.com/download/174
Sebuah Puisi Harapan Hati
Selasa, 20 Juni 2006 oleh Yudha P Sunandar
Memandang gadis idaman yang tertaut lelakinya
Yang mengabdi jadi sepasang kekasih
Terheran hatiku bicara
Kapan hamba bisa jadi miliknya
Yang mengasihi tanpa ada pamrih
Terjerembabku mengadu
Bahwa aku hanya bisa tertawa bisu
Dan menangis terbahak-bahak
Di tengah rotasi perputaran hati
Dan dalam kebingungan yang sempurna
Hanya sendu yang kubawa
Untuk malam yang terang
Dan untuk siang yang semakin kelam
Hanya pilu yang kupunya
Untuk jiwa yang telah tiada
Dan untuk hati yang berkaca-kaca
Hanya ini yang kupunya
Sebuah puisi harapan hati
Dari kekekalan sendiri yang abadi
Yudha P Sunandar
Sn
09417/thyan...wmv.html
Kamis, 01 Desember 2011
puisi q
akhirnya…..
ujung pengharapan itu sirna
kembali aku terdampar diangkasa penantian
diruang tunggu penuh halusinasi kembali kumenekuri hari
sendiri tanpa penyeimbang jiwa
jingga telah menjadi hitam
biru kini menjadi gelap
haruskah kurubah haluan hati
ataukah bertahan namun hancur perlahan
mengerang….
meregang nyawa
nyanyian hati tak lagi berirama
gelombang rindu tanpa arah
jiwaku tercacah
hatiku terbelah
tersudut dalam pasrah
laut cinta tanpa tepi
seperti hidup hanya menunggu mati
masih adakah ujung pengharapan
ataukah telah sirna tanpa asa
sungguh…..
laut cinta tanpa tepi
seperti hidup hanya menunggu mati
by.puisi.asia
semua
Puisi ini bersumber dari : http://www.gudangpuisi.com/2011/12/disaat-ku-bisu-karna-kekuatan-mu.html#ixzz1fMMBXPQO
Blogger yang beretika selalu menampilkan sumbernya.
DISAAT KU BISU (karna kekuatan mu)
Aku selalu membukakan pintu
Disaat mereka ingin memasuki halaman-halaman ku,
Yang Berniat untuk menjadi kumbang,
Dan berniat pula untuk menjadi matahari yang ingin aku miliki,
Aku pun juga selalu memberikan sajian yang indah.
Namun itu selalu seperti ombak yang ingin memperkenalkan aku dengan tangisan yang dalam.
Setiap sayatan kata mutiara yang digumbar olehnya
Membuat aku seketika mati,
Namun siapa aku..?
Aku hanya bisa merawat halaman-halaman ku,
Namun aku tak dapat memilikinya,
Setiap embun pagi menyapa ku,
Selalu aku ulurkan hal yang termanis dalam cinta,
Namun. ,,
Aku selalu di bodohi oleh gerhana bulan yang menutupi sayang ku,
Hingga ku tak mengenal sajak-sajak yang aku tata rapi di dalam hampa Bisu ku.
Aku seolah-olah tak mengenal hati yang bergemilang,
Karna aku serasa di izin kan TUHAN untuk bisa terdiam karna kekuatan mu,
Langakah demi langkah
Dan nyanyian demi nyanyian aku terima dengan kesaksian kebodohan
Aku merasa hampa.
Namun aku selalu menjadi punjangga yang akan tetap diam,
Berdiri,
Dibodohi.
Meratapi.
Dan akan berusaha mengenal hati ku dan dalam hati mereka,
Selalu lah menjadi bintang dalam tidur ku.
Walau aku takakan pernah sanggup tuk menjawab
Hal yang sebenarnya,
Selamat sayang
Kau membuat aku tak bisa mengenal cinta..
Disaat mereka ingin memasuki halaman-halaman ku,
Yang Berniat untuk menjadi kumbang,
Dan berniat pula untuk menjadi matahari yang ingin aku miliki,
Aku pun juga selalu memberikan sajian yang indah.
Namun itu selalu seperti ombak yang ingin memperkenalkan aku dengan tangisan yang dalam.
Setiap sayatan kata mutiara yang digumbar olehnya
Membuat aku seketika mati,
Namun siapa aku..?
Aku hanya bisa merawat halaman-halaman ku,
Namun aku tak dapat memilikinya,
Setiap embun pagi menyapa ku,
Selalu aku ulurkan hal yang termanis dalam cinta,
Namun. ,,
Aku selalu di bodohi oleh gerhana bulan yang menutupi sayang ku,
Hingga ku tak mengenal sajak-sajak yang aku tata rapi di dalam hampa Bisu ku.
Aku seolah-olah tak mengenal hati yang bergemilang,
Karna aku serasa di izin kan TUHAN untuk bisa terdiam karna kekuatan mu,
Langakah demi langkah
Dan nyanyian demi nyanyian aku terima dengan kesaksian kebodohan
Aku merasa hampa.
Namun aku selalu menjadi punjangga yang akan tetap diam,
Berdiri,
Dibodohi.
Meratapi.
Dan akan berusaha mengenal hati ku dan dalam hati mereka,
Selalu lah menjadi bintang dalam tidur ku.
Walau aku takakan pernah sanggup tuk menjawab
Hal yang sebenarnya,
Selamat sayang
Kau membuat aku tak bisa mengenal cinta..
Puisi ini bersumber dari : http://www.gudangpuisi.com/2011/12/disaat-ku-bisu-karna-kekuatan-mu.html#ixzz1fMMBXPQO
Blogger yang beretika selalu menampilkan sumbernya.
Langganan:
Postingan (Atom)



